|
Rabu, 05 Februari 2014
Minggu, 02 Februari 2014
Terlahir dngan nama Peter Gene Hernandez atau lebih di kenal dengan nama Bruno Mars
(lahir 8 Oktober 1985; umur 25 tahun) adalah penyanyi Pop, Hip-Hop,
Soul, R&B dan pencipta lagu California, Amerika Serikat kelahiran
Hawaii. Ia mulai terkenal saat berduet dengan B.o.B dalam lagu “Nothin’ On You dan saat merilis singlenya “Just The Way You Are”.
Jangan sangsikan musikalitasnya, karena dia juga berasal dari keluarga
yang gemar seni, khususnya musik. Ayahnya, Pete, seorang New Yorker,
adalah pemain perkusi. Ibunya, Bernie, berdarah Filipina keturunan
“Puerto Rico”, adalah seorang penari hula.
Pete dan Bernie memiliki 6 orang anak dan mengenalkan mereka pada berbagai jenis musik, reggae, rock, hip hop, dan R&B. Khusus untuk anaknya yang bernama Peter Gene Hernandez, Pete memanggilnya dengan nama Bruno, berhubung saat berusia 2 tahun, sang bayi bertubuh gempal, mirip dengan pegulat terkenal zaman itu, Bruno Sammartino. Nama itu yang kemudian dipilihnya sebagai nama panggungnya. Dan ketika memikirkan nama belakang untuk Bruno, dia langsung teringat akan para gadis yang menyebutkan dirinya bukan berasal dari bumi, yang lantas membuatnya terpikir akan Mars. Dan jadilah, Peter Gene Hernandez menjadi Bruno Mars, seperti yang kita kenal sekarang. Dia kelahiran 8 Oktober 1985. Dan dalam 25 tahun kehidupannya, hampir apa saja sudah dilakukannya dalam rangka mengasah kemampuan bermusiknya. Dari usia muda, dia sudah tampil meniru dan menyanyikan lagu-lagu Michael Jackson, Elvis Presley, The Isley Brothers, dan The Temptations. Saat usia sekolah, dia memperdalam kegemarannya terhadap Elvis, sekaligus memperluas pengetahuan musiknya lewat Prince dan The Police.
Usai menyelesaikan sekolahnya, dirinya pun hijrah ke Los Angeles untuk mewujudkan American Dream-nya. Dan Dewi Fortuna berpihak padanya, saat tahun 2006 lalu dirinya berkenalan dengan Aaron Bay Schuck, yang kemudian menjadi manajernya dan menawari kontrak di bawah nauangan “Atlantic Records”. Bruno Mars berada dalam jalur yang tepat menuju kesuksesan! Apa yang harus ia lakukan sebagai langkah awal mencapai cita-citanya dalam industri ini? Tidak serta merta menjadi penyanyi, Bruno memulai dengan menulis lagu untuk penyanyi lain. Di muncul di credit untuk album Alexandra Burke (’Perfect’ from “Overcome”), Travie McCoy (”We’ll Be Alright’ from “Lazarus”), Brandy (’Long Distance’ from “Human”), empat
Semakin PD dengan kemampuannya di balik layar, mengapa tidak muncul sebagai vokal tamu. Maka dimulailah kemunculan nama Bruno Mars sebagai guest appearance untuk album “Far East Movement” “Animal” di lagu ‘3D’, dan juga debut “Jaeson Ma” ‘Love’. Menang, ini masih kurang mengangkat kepopuleran Bruno ke permukaan, tapi selanjutnya, tidak ada yang bisa menghentikannya. Kita pertama tau dirinya dan vokalnya yang kuat dan seksi dari single nomor 1 “B.o.B”, Nothin’ On You juga solo debut Travie McCoy ‘Billionaire’. Kita dibuat lebih tertarik padanya ketimbang pada penyaji utama kedua single tersebut. Dan ini semua cukup untuk menjadi landasan yang kuat untuk tampil sendiri. Just The Way You Are pun diluncurkan pada pertengahan tahun lalu. Dan hasilnya bigger than ever. Jadi juara di berbagai tangga lagu di berbagai belahan dunia. Lagu ini memiliki chorus yang dahsyat, melodi dan lirik yang memorable, dan menampilkan yang terbaik dari Bruno Mars. “”He’s on the way to top and there’s no sign of stopping!””
Untuk Grammy Awards tahun ini, kita dibuat tercengang dengan munculnya Bruno Mars dalam 6 kategori. “Best Rap Song, Best Rap/Sung Collaboration”, dan “Record Of The Year” untuk ‘Nothin’ On You’, “Record Of The Year” dan “Song Of The Year” untuk ‘F–k You’ yang dinyanyikan oleh Cee-Lo Green, “Best Male Pop Vocal Performance” untuk Just The Way You Are, dan “Producer Of The Year Non-classical” untuk trio The Smeezingtons. Ini bisa jadi menambah koleksi penghargaan yang diraihnya, setelah sebelumnya menyabet Soul Train Music Awards. Album debutnya “Doo-wops & Hooligans” yang berisi 12 track pun dirilis pada akhir Januari 2011 ini di Indonesia. Dan dalam menyambut kemeriahana tas kesuksesan pria seksi 25 tahun ini, CreativeDisc memilihnya sebagai sorotan selama sebulan penuh dalam Artist Of The Month! Single keduanya “Grenade” pun enggak kalah sukses. Jadi nomor 1 di berbagai tangga lagu di berbagai negara di Eropa, Australia, Asia, dan Amerika. We don’t have to think too much of where that voice coming from, cause we’re here to enjoy the month of love with his singing! It’s Bruno Mars!!!
Sumber : http://kolom-biografi.blogspot.com/2011/09/biografi-bruno-mars.html
| PO CTU (CITY TRANS UTAMA) |
Dengan satu unit bis ex armada PO Doa Ibu menggunakan mesin Hino RG tahun 2002 berbalut body karoseri Mayasari, dibawah manajemen Bapak Hamdani, City Trans Utama langsung terjun di industri transportasi bis pariwisata di kota Bandung yang saat itu belum menggunakan brand City Trans Utama (CTU). Seiring dengan waktu, usaha jasa angkutan bis ini mulai di lirik oleh pangsa pasar industri pariwisata, permintaan untuk sewa bis pariwisata dari konsumen yang semakin meningkat. Perusahaan pun tidak tinggal diam dan langsung menanggapi dengan menambah unit bis untuk memenuhi permintaan konsumen bis pariwisata. Tidak harus menunggu lama, pada tanggal 27 Desember 2008 di luncurkan 2 unit bis dengan menggunakan mesin Hino jenis RKT berbalut bodi model Skania karoseri Restu Ibu (RI), selanjutnya pada tanggal 7 Februari 2009 kembali 2 unit dengan spek yang sama di luncurkan guna menambah jajaran armada perusahaan ini hingga total berjumlah 5 unit bis. Dimulai dari saat itu penamaan unit City Trans Utama (CTU) diberlakukan. Untuk perdananya 2 unit RK8 R235 dengan bodi Evolution Rahayu Sentosa di beri kode CTU 1 dan CTU 2, penambahan armada terus di lakukan, tanggal 14 Maret 2009 di luncurkan CTU 3, CTU 4, dan CTU 5, tanggal 15 Maret 2009 di datangkan juga 1 unit model Skania karoseri Restu Ibu (RI), tanggal 26 Maret 2009 di luncurkan CTU 6, tanggal 26 Mei 2009 di luncurkan CTU 7, CTU 8, CTU 9, dan CTU 10, tangal 8 Desember 2009 di luncurkan CTU 11 dan CTU 12, tanggal 10 Desember 2009 di luncukan CTU 14 (tidak menggunakan pengkodean CTU 13), tanggal 12 Desember di luncurkan CTU 15 dan CTU 16. Untuk unit CTU 16 ada keistimewaan tersendiri, karena ini adalah unit pertama dengan basic mesin Hino yang menggunakan transmisi Matic . Bersamaanya dengan di luncurkan Legacy menggunakan model transisi matic (CTU 30), City Trans Utama meluncurkan juga unit terbaru dari karoseri Adiputro dengan model New Marcopollo dengan Mesin Hino RK8 R260 sebanyak 5 unit yaitu CTU 31, CTU 32, CTU 32A, CTU 34, dan CTU 35, tanggal 16 Desember 2010 di luncurkan 6 unit lagi yaitu CTU 36, CTU 37, CTU 38, CTU 39, CTU 40, dan CTU 41 Tidak saja pengadaan armada baru, pelayanan dan kebersihan sangat menjadi perhatian pihak manajemen. Dari segi fasilitas untuk setiap armadanya pun mendapat perhatian lebih, seperti audio di masing-masing unit serta fasilitas bantal dan selimut. Untuk melengkapi permintaan konsumen yang beragam, pihak perusahan juga menyediakan armada dengan beberapa pilihan jumlah seat. Untuk yang tersedia saat ini adalah bis dengan jumlah seat 27, 28, 47 dan 59 (Andreas Kurniawan T/BBC).
Sumber:http://www.bandungbiser.com/detail&n=069059b7ef840f0c74a814ec9237b6ec
|
Sabtu, 01 Februari 2014
Kisah Haryanto Pemilik PO Haryanto


Kisah Haryanto merintis perusahaan angkutan PO Haryanto
PO. HaryantoMerantau ke Jakarta tanpa uang dan pendidikan, Haryanto akhirnya melamar sebagai anggota TNI. Setelah 20 tahun mengabdi di kesatuannya dengan pangkat terakhir kopral, ia justru sukses berbisnis angkutan umum. Kini penghasilannya tak kalah dengan para jenderal.
Gelutilah bisnis yang Anda kenal. Haryanto agaknya betul-betul menjalankan nasihat ini dengan disiplin tinggi. Berkat ketekunan, keuletan, dan tentu saja garis keberuntungan yang tergores di tangannya, Haryanto akhirnya memetik buah usahanya.
Bagi pria kelahiran Kudus 46 tahun yang lalu ini disiplin memang bukan hal aneh. Maklum, ia adalah mantan anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI). Jangan pandang sebelah mata. Kariernya di TNI memang berakhir saat ia berpangkat kopral. Tapi, Haryanto benar-benar sukses mengelola bisnis. Saat ini ia memiliki 26 bus eksekutif yang melayani jalur Jakarta-Kudus PP, Jakarta-Pati PP dan Jakarta-Jepara PP. Selain itu, ia juga memiliki 150 unit angkutan kota (angkot) yang merajai seluruh trayek di Tangerang serta memiliki show room mobil.
Haryanto sendiri sebenarnya tak pernah menyangka ia akan menjadi pengusaha. Pasalnya, ia terlahir sebagai anak desa di Kudus, Jawa Tengah. Orang tuanya hanyalah buruh tani yang punya kerja sambilan sebagai tukang memisahkan tulang dan daging ikan di pasar. Adapun Haryanto, sejak kecil dididik untuk bekerja keras, mulai dari menggembala sapi milik tetangga, berjualan es atau sebagai tukang ngarit demi menambah penghasilan bagi kelangsungan hidup keluarganya. Maklum, keluarganya adalah keluarga besar. Haryanto adalah anak keenam dari sebelas bersaudara.
Meski ulet, ternyata Haryanto cukup bandel. Buktinya, ia tidak menyelesaikan sekolahnya di bangku Sekolah Teknik Menengah (STM) lantaran merasa tidak cocok. Ia lalu kabur dari rumah dan hijrah ke Tangerang. “Saya akan mengubah nasib,” begitu tekadnya waktu itu.
Berbekal tekad dan semangat yang kuat, di Tangerang Haryanto lalu mendaftar sebagai anggota TNI. Sejak kecil Haryanto memang bercita-cita bisa berseragam loreng sambil memanggul senjata. Cita-citanya itu akhirnya kesampaian juga. Tahun 1979 ia mulai bekerja di kesatuan angkatan udara Kostrad di Tangerang. “Saya dididik jadi pengemudi, tugas saya mengangkut alat-alat berat, meriam, beras untuk konsumsi dan perminyakan,” kenang Haryanto. Penghasilan yang ia kantongi waktu itu sekitar Rp 18.000 per bulan.
Bekerja sambilan jadi sopir angkot
Karena sudah bekerja dan mengantongi gaji, pada 1982 Haryanto memberanikan diri untuk menikah. Tapi, gaji belasan ribu yang diterimanya tiap bulan itu ternyata tak cukup untuk menambal semua kebutuhan hidupnya. Bahkan, rumah sewa berukuran 3 x 4 meter yang ia huni bersama dengan istrinya tak mampu ia bayar. “Untuk membayar sewa rumah saja saya utang,” kenangnya. Kepepet dengan kondisi keuangan yang minim inilah yang justru mempertebal semangat Haryanto untuk mulai mencari usaha sampingan. Pada 1984, dengan modal uang tabungan kurang dari Rp 1 juta, Haryanto nekat membeli satu unit mobil angkutan kota (angkot) buatan Daihatsu.
Ia pun lalu menjadi sopir bagi kendaraan pribadinya yang berpelat kuning. Waktu itu rute yang ia tempuh Pasar Anyar-Serpong. “Dulu masih kebun karet, jalannya juga enggak sebagus sekarang,” paparnya. Di sela-sela waktu bekerja sebagai sopir kendaraan militer di kesatuannya, Haryanto pun meluangkan waktunya untuk menyopiri angkotnya. Saban hari ia menyopir angkotnya pada pukul 15.00-16.00, kemudian bekerja di Kostrad hingga pukul 19.00. Selepas pukul 22.00, ia mulai mengemudikan angkotnya lagi hingga dini hari. Suka tidak suka, Haryanto harus mengurangi waktu tidurnya demi menafkahi istri dan ketiga anaknya.
Berkat rajin menyopiri angkotnya, tahun-tahun berikutnya Haryanto terus membeli angkot dari uang yang ia sisihkan. Modal untuk membeli angkot juga didapatnya dari hasil kerja sambilannya yang lain, sebagai perwakilan bus PO Sumber Urip yang ia tekuni sejak 1990-2000. Angkotnya terus beranak-pinak hingga puluhan dan terus bertambah menembus angka 100 unit. “Insya Allah sekarang saya telah memiliki jalur angkot hampir seluruh Tangerang,” ungkapnya penuh syukur. Saat ini sekitar 150 angkot ada dalam daftar asetnya. Dari usaha angkotnya saja, jutaan rupiah berhasil ia kantongi setiap hari.
Tapi, Haryanto bukan orang yang gampang berpuas diri. Tahun 1990 ia membuka satu gerai showroom mobil di Tangerang yang khusus menjual angkot dari beragam karoseri. Gerai ini tak membutuhkan modal yang banyak, Haryanto hanya menyiapkan lahan bagi mereka yang ingin menjual angkotnya. “Modalnya hanya kepercayaan,” tukas Haryanto. Showroom ini pun cukup laris, setiap bulan sekitar 20-30 unit mobil berhasil ia jual.
Pensiun dari kopral, gajinya jenderal
Karena putaran roda bisnisnya semakin kencang, Haryanto pun akhirnya memutuskan untuk keluar dari kesatuannya di militer. Kendati usianya baru 43 tahun, tahun 2002 lalu, ia melayangkan surat pengunduran diri. “Saya enggak dapat pesangon, tapi dapat pensiun Rp 800.000 per bulan,” ujarnya.
Sejak pensiun itulah Haryanto justru sibuk dengan mainan barunya, yaitu PO Haryanto yang dirintisnya pada tahun yang sama. Waktu itu Haryanto mendapat kucuran kredit dari Bank BRI sekitar Rp 3 miliar. Uang itu ia gunakan untuk membeli enam unit bus senilai masing-masing Rp 800 juta. “Pinjaman itu saya pakai untuk uang muka beli bus,” katanya.
Semula Haryanto mengoperasikan busnya untuk rute Cikarang-Cimone kelas non-AC alias ekonomi. Sayangnya, bus jurusan ini sepi penumpang. Maka, ia mengalihkan ke bus eksekutif yang ber-AC dan membuat rute baru yang tujuannya tak jauh dari kampung halamannya, yaitu Jakarta-Kudus, Jakarta-Jepara, dan Jakarta-Pati. Demi menjaga kualitas, Haryanto mendidik sopir-sopirnya agar tidak ugal-ugalan dan diprotes penumpang. Walau sudah menjadi juragan, Haryanto pun tak segan-segan setiap hari nongkrong di terminal, memeriksa sendiri kondisi bus-busnya sambil mendengarkan keluhan penumpang.
Di garasinya kini sekitar 20 unit bus berjajar rapi. Adapun enam bus kelas ekonomi yang pertama ia beli dulu, dikandangkan terpisah dan tidak lagi ia lajukan di jalan raya. “Bus ekonomi nanti akan saya lepas Rp 200 juta per unitnya,” kata Haryanto. Salah satu kunci suksesnya sebagai pemain baru di bisnis bus antarkota antarprovinsi ini adalah karena ia berani mematok tarif 20% lebih murah ketimbang perusahaan otobus lain.
Tak heran, banyak penumpang yang kini melirik armada angkutannya sehingga pundi-pundi uang Haryanto lancar terisi. Dari putaran roda bisnis di bisnis beragam angkutan penumpang ini, Haryanto kini menangguk pendapatan yang lumayan. Karyawannya pun kini telah mencapai 500 orang. “Saya enggak nyangka sekarang bisa menjadi pengusaha,” ungkap Haryanto. Sebagai pengusaha, tentu saja penghasilan pensiunan kopral itu tak kalah dengan para jenderal.
Mengongkosi Sopir ke Tanah Suci
Pergi ke tanah suci adalah impian Haryanto, pemilik PO Haryanto. Itu sebabnya, ia selalu menyisihkan sedikit demi sedikit penghasilannya. Berkat uang hasil tabungannya itulah, pada 1997, akhirnya ia bisa berangkat ke tanah suci bersama orang tua dan istrinya. Sejak kakinya menginjakkan tanah suci itulah ia berjanji pada dirinya untuk menjalankan bisnis ini dengan sungguh-sungguh. “Alhamdulillah saya bisa ke Mekkah juga dari hasil usaha angkot,” ujarnya kalem.
Haryanto agaknya sadar betul bahwa usahanya tak akan berhasil tanpa campur tangan Yang di Atas. Itu sebabnya, ia berikrar akan memberangkatkan sopir-sopirnya ke Tanah Suci. Maka dari itu, setiba dari Mekkah, kendati harga dolar sedang mahal-mahalnya, Haryanto memenuhi janjinya pada diri sendiri untuk memberangkatkan karyawannya naik haji. Kesempatan pertama itu ia hadiahkan pada satu orang sopir yang telah setia bekerja padanya. “Dia sopir pertama yang saya berangkatkan ke tanah suci,” ujarnya.
Tradisi memberangkatkan karyawannya itu terus ia pelihara hingga sekarang. Bagi karyawan yang taat dan tekun beribadah, Haryanto tak segan-segan membagi tiket untuk beribadah ke Mekkah. Kini setiap tahun sekitar lima karyawan berangkat naik haji atas biaya Haryanto.
Sumber : http://falsbusmania.blogspot.com/2013/04/kiah-haryanto-pemilik-po-haryanto.html
Kisah Haryanto merintis perusahaan angkutan PO Haryanto
PO. HaryantoMerantau ke Jakarta tanpa uang dan pendidikan, Haryanto akhirnya melamar sebagai anggota TNI. Setelah 20 tahun mengabdi di kesatuannya dengan pangkat terakhir kopral, ia justru sukses berbisnis angkutan umum. Kini penghasilannya tak kalah dengan para jenderal.
Gelutilah bisnis yang Anda kenal. Haryanto agaknya betul-betul menjalankan nasihat ini dengan disiplin tinggi. Berkat ketekunan, keuletan, dan tentu saja garis keberuntungan yang tergores di tangannya, Haryanto akhirnya memetik buah usahanya.
Bagi pria kelahiran Kudus 46 tahun yang lalu ini disiplin memang bukan hal aneh. Maklum, ia adalah mantan anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI). Jangan pandang sebelah mata. Kariernya di TNI memang berakhir saat ia berpangkat kopral. Tapi, Haryanto benar-benar sukses mengelola bisnis. Saat ini ia memiliki 26 bus eksekutif yang melayani jalur Jakarta-Kudus PP, Jakarta-Pati PP dan Jakarta-Jepara PP. Selain itu, ia juga memiliki 150 unit angkutan kota (angkot) yang merajai seluruh trayek di Tangerang serta memiliki show room mobil.
Haryanto sendiri sebenarnya tak pernah menyangka ia akan menjadi pengusaha. Pasalnya, ia terlahir sebagai anak desa di Kudus, Jawa Tengah. Orang tuanya hanyalah buruh tani yang punya kerja sambilan sebagai tukang memisahkan tulang dan daging ikan di pasar. Adapun Haryanto, sejak kecil dididik untuk bekerja keras, mulai dari menggembala sapi milik tetangga, berjualan es atau sebagai tukang ngarit demi menambah penghasilan bagi kelangsungan hidup keluarganya. Maklum, keluarganya adalah keluarga besar. Haryanto adalah anak keenam dari sebelas bersaudara.
Meski ulet, ternyata Haryanto cukup bandel. Buktinya, ia tidak menyelesaikan sekolahnya di bangku Sekolah Teknik Menengah (STM) lantaran merasa tidak cocok. Ia lalu kabur dari rumah dan hijrah ke Tangerang. “Saya akan mengubah nasib,” begitu tekadnya waktu itu.
Berbekal tekad dan semangat yang kuat, di Tangerang Haryanto lalu mendaftar sebagai anggota TNI. Sejak kecil Haryanto memang bercita-cita bisa berseragam loreng sambil memanggul senjata. Cita-citanya itu akhirnya kesampaian juga. Tahun 1979 ia mulai bekerja di kesatuan angkatan udara Kostrad di Tangerang. “Saya dididik jadi pengemudi, tugas saya mengangkut alat-alat berat, meriam, beras untuk konsumsi dan perminyakan,” kenang Haryanto. Penghasilan yang ia kantongi waktu itu sekitar Rp 18.000 per bulan.
Bekerja sambilan jadi sopir angkot
Karena sudah bekerja dan mengantongi gaji, pada 1982 Haryanto memberanikan diri untuk menikah. Tapi, gaji belasan ribu yang diterimanya tiap bulan itu ternyata tak cukup untuk menambal semua kebutuhan hidupnya. Bahkan, rumah sewa berukuran 3 x 4 meter yang ia huni bersama dengan istrinya tak mampu ia bayar. “Untuk membayar sewa rumah saja saya utang,” kenangnya. Kepepet dengan kondisi keuangan yang minim inilah yang justru mempertebal semangat Haryanto untuk mulai mencari usaha sampingan. Pada 1984, dengan modal uang tabungan kurang dari Rp 1 juta, Haryanto nekat membeli satu unit mobil angkutan kota (angkot) buatan Daihatsu.
Ia pun lalu menjadi sopir bagi kendaraan pribadinya yang berpelat kuning. Waktu itu rute yang ia tempuh Pasar Anyar-Serpong. “Dulu masih kebun karet, jalannya juga enggak sebagus sekarang,” paparnya. Di sela-sela waktu bekerja sebagai sopir kendaraan militer di kesatuannya, Haryanto pun meluangkan waktunya untuk menyopiri angkotnya. Saban hari ia menyopir angkotnya pada pukul 15.00-16.00, kemudian bekerja di Kostrad hingga pukul 19.00. Selepas pukul 22.00, ia mulai mengemudikan angkotnya lagi hingga dini hari. Suka tidak suka, Haryanto harus mengurangi waktu tidurnya demi menafkahi istri dan ketiga anaknya.
Berkat rajin menyopiri angkotnya, tahun-tahun berikutnya Haryanto terus membeli angkot dari uang yang ia sisihkan. Modal untuk membeli angkot juga didapatnya dari hasil kerja sambilannya yang lain, sebagai perwakilan bus PO Sumber Urip yang ia tekuni sejak 1990-2000. Angkotnya terus beranak-pinak hingga puluhan dan terus bertambah menembus angka 100 unit. “Insya Allah sekarang saya telah memiliki jalur angkot hampir seluruh Tangerang,” ungkapnya penuh syukur. Saat ini sekitar 150 angkot ada dalam daftar asetnya. Dari usaha angkotnya saja, jutaan rupiah berhasil ia kantongi setiap hari.
Tapi, Haryanto bukan orang yang gampang berpuas diri. Tahun 1990 ia membuka satu gerai showroom mobil di Tangerang yang khusus menjual angkot dari beragam karoseri. Gerai ini tak membutuhkan modal yang banyak, Haryanto hanya menyiapkan lahan bagi mereka yang ingin menjual angkotnya. “Modalnya hanya kepercayaan,” tukas Haryanto. Showroom ini pun cukup laris, setiap bulan sekitar 20-30 unit mobil berhasil ia jual.
Pensiun dari kopral, gajinya jenderal
Karena putaran roda bisnisnya semakin kencang, Haryanto pun akhirnya memutuskan untuk keluar dari kesatuannya di militer. Kendati usianya baru 43 tahun, tahun 2002 lalu, ia melayangkan surat pengunduran diri. “Saya enggak dapat pesangon, tapi dapat pensiun Rp 800.000 per bulan,” ujarnya.
Sejak pensiun itulah Haryanto justru sibuk dengan mainan barunya, yaitu PO Haryanto yang dirintisnya pada tahun yang sama. Waktu itu Haryanto mendapat kucuran kredit dari Bank BRI sekitar Rp 3 miliar. Uang itu ia gunakan untuk membeli enam unit bus senilai masing-masing Rp 800 juta. “Pinjaman itu saya pakai untuk uang muka beli bus,” katanya.
Semula Haryanto mengoperasikan busnya untuk rute Cikarang-Cimone kelas non-AC alias ekonomi. Sayangnya, bus jurusan ini sepi penumpang. Maka, ia mengalihkan ke bus eksekutif yang ber-AC dan membuat rute baru yang tujuannya tak jauh dari kampung halamannya, yaitu Jakarta-Kudus, Jakarta-Jepara, dan Jakarta-Pati. Demi menjaga kualitas, Haryanto mendidik sopir-sopirnya agar tidak ugal-ugalan dan diprotes penumpang. Walau sudah menjadi juragan, Haryanto pun tak segan-segan setiap hari nongkrong di terminal, memeriksa sendiri kondisi bus-busnya sambil mendengarkan keluhan penumpang.
Di garasinya kini sekitar 20 unit bus berjajar rapi. Adapun enam bus kelas ekonomi yang pertama ia beli dulu, dikandangkan terpisah dan tidak lagi ia lajukan di jalan raya. “Bus ekonomi nanti akan saya lepas Rp 200 juta per unitnya,” kata Haryanto. Salah satu kunci suksesnya sebagai pemain baru di bisnis bus antarkota antarprovinsi ini adalah karena ia berani mematok tarif 20% lebih murah ketimbang perusahaan otobus lain.
Tak heran, banyak penumpang yang kini melirik armada angkutannya sehingga pundi-pundi uang Haryanto lancar terisi. Dari putaran roda bisnis di bisnis beragam angkutan penumpang ini, Haryanto kini menangguk pendapatan yang lumayan. Karyawannya pun kini telah mencapai 500 orang. “Saya enggak nyangka sekarang bisa menjadi pengusaha,” ungkap Haryanto. Sebagai pengusaha, tentu saja penghasilan pensiunan kopral itu tak kalah dengan para jenderal.
Mengongkosi Sopir ke Tanah Suci
Pergi ke tanah suci adalah impian Haryanto, pemilik PO Haryanto. Itu sebabnya, ia selalu menyisihkan sedikit demi sedikit penghasilannya. Berkat uang hasil tabungannya itulah, pada 1997, akhirnya ia bisa berangkat ke tanah suci bersama orang tua dan istrinya. Sejak kakinya menginjakkan tanah suci itulah ia berjanji pada dirinya untuk menjalankan bisnis ini dengan sungguh-sungguh. “Alhamdulillah saya bisa ke Mekkah juga dari hasil usaha angkot,” ujarnya kalem.
Haryanto agaknya sadar betul bahwa usahanya tak akan berhasil tanpa campur tangan Yang di Atas. Itu sebabnya, ia berikrar akan memberangkatkan sopir-sopirnya ke Tanah Suci. Maka dari itu, setiba dari Mekkah, kendati harga dolar sedang mahal-mahalnya, Haryanto memenuhi janjinya pada diri sendiri untuk memberangkatkan karyawannya naik haji. Kesempatan pertama itu ia hadiahkan pada satu orang sopir yang telah setia bekerja padanya. “Dia sopir pertama yang saya berangkatkan ke tanah suci,” ujarnya.
Tradisi memberangkatkan karyawannya itu terus ia pelihara hingga sekarang. Bagi karyawan yang taat dan tekun beribadah, Haryanto tak segan-segan membagi tiket untuk beribadah ke Mekkah. Kini setiap tahun sekitar lima karyawan berangkat naik haji atas biaya Haryanto.
Sumber : http://falsbusmania.blogspot.com/2013/04/kiah-haryanto-pemilik-po-haryanto.html
Spesifikasi Jetbus Adiputro
Jetbus adalah Bus varian andalan dari Karoseri ADIPUTRO yang
diluncurkan pada tanggal 22 Juli 2011 dalam event IIMS, sebenarnya nama
Jetbus ini adalam pemberian dari salah satu client adiputro. Pada
awalnya bus ini bernama Royal Coach, namun seiring waktu lebih terkenal
dengan nama Jetbus. Berikut spesifikasi standar yang ditawarkan Jetbus Adiputro.
CHASSIS YANG DIDUKUNG :
CHASSIS YANG DIDUKUNG :
MERCEDES BENZ: OH1518, OH1521, OH 1525, OH 1526, OH 1632, OH 1725, OH 1830, OH 2629
HINO: AK, RG, RK 235 / 260
Standar :
Panjang : 12000 MM, Lebar : 2500 MM, Tinggi : 3300 MM
HI DECK :
Panjang : 12000 MM, Lebar : 2500 MM, Tinggi : 3500
Exterior
Body Panel : Galvanized Steel
Windscreen : Laminated Glass
Side Windows : Tempered Fixed Glass
Front Door : Swing/Sliding Manual/Pneumatic Plug
Rear Door : Swing/Sliding Manual/Pneumatic Plug
Driver Door : Without Door (Optional Driver Door)
Luggage : 6 Rack

Interior
Flooring : Tarabus Flooring
Optional Seating Capacity
ENTERTAINMENT SYSTEM :
Video System : Up To 26" LCD TV
Audio System : DVD Player + 8 Speakers
SAFETY FEATURES :
Emergency Door
Safety Hammer
Fire Extinguisher
Sumber : http://www.karoseri-id.com/2013/02/spesifikasi-jetbus-adiputro.html
PO NUSANTARA | KUDUS
PO NUSANTARA adalah salah satu Perusahaan Otobus terbesar di
indonesia yang sudah berdiri 40 tahun lebih jadi pagi penggemar bus di
indonesia pasti mengenal PO NUSANTARA. Kali ini saya akan membagikan
sedikit sejarah singkat dari PO Nusantara dan memberikan beberapa Foto
Bis PO Nusantara karena diluar sana sudah banyak yang menceritakan
sejarah PO Nusantara lebih detail. Mungkin saya hanya akan menambahkan
beberapa informasi terbaru dari PO Nusantara. Oke langsung saja menuju
TKP.
Berdiri tahun : 1968 di Kudus, Jawa tengah
Pendiri : Yonatan Budianto
TIMELINE :
- Tahun 1968 2 unit : GAZ buatan Uni soviet tahun 1965 Ex TNI AL
- Tahun 1969 5 unit : ZIEL tahun 1962 Ex TNI AU
- Tahun 1970 : THAMES buatan inggris tahun 1970 (Rangka kayu)
- Tahun 1975 - 1977 : FORD buatan amerika (Body besi baja)
- Tahun 1984 : Mercedes benz
SERVICE
BUS BOEMEL | Antar Kota Dalam Propinsi (AKDP)
Fasilitas AC dan Non AC
Jurusan; Semarang - Kudus - Pati - Rembang - Lasem
Fasilitas : AC, Rest Seat, TV, VCD/DVD , Seat 2-2
Jurusan: Jogjakarta, Semarang, Purwokerto, Wonosobo. Cirebon, Pekalongan, Tegal, Kudus dan Surabaya
BUS MALAM | Antar Kota Antar Propinsi (AKAP)
BUS PARIWISATA
COURIER SERVICES | Pengiriman Barang
SHUTTLE | Jurusan Semarang - Pekalongan PP
Dari semua armada PO Nusantara kebanyakan adalah buatan dari Karoseri Adi Putro, Baik Jetbus dan Shuttle nya.
Yang lebih menarik adalah PO Nusantara menjadi trend center untuk karoseri - karoseri dengan armadanya yang terbilang "wah" karena untuk chasis - chasis Mercedes Benz terbaru misal OH 1626, OH 1830, dan OH 1836 PO Nusantara sudah memiliknya, Dan dibuktikan dengan JETBUS HD dengan chasis MB OH 1830 yang sempat Road Show Kudus - Jakarta di Mercedes benz Indonesia.
Beberapa foto Armada PO Nusantara
Nah dari beberapa cuplikan foto di atas Omah Mlaku dan Omah Mlayu merupakan salah satu produk PO Nusantara yang merupakan Home Bus yang sempat di liput oleh salah satu stasiun TV swasta di Indonesia.
Dan saat ini PO Nusantara sudah memiliki karoseri sendiri yaitu Karoseri Gemilang Nusantara dengan produk pertamanya Skybus.
Sumber : www.karoseri-id.com/2013/04/po-nusantara.html
Bus Chassis MAN R37 Triple Axle
Bus dengan Chassis MAN R37 Triple Axle sedang hangat dibicarakan, karena memang kabar terbarunya Chassis ini telah dimiliki oleh PO besar di Indonesia yaitu PO Nusantara
dan juga PO Nusa Indah . MAN yang bermakas di German sepertinya siap
bersaing di pasar Bus Indonesia dibuktikan dengan hadirnya beberapa unit
Chassis Triple Axle yang masuk di Indonesia di bawah PT Duta Putra
Sumatera (DPS) sebagai Agen Tunggal Pemegang Merk MAN Bus dan Truck di
Indonesia. Agar lebih jelas silahkan baca spesifikasi MAN R37.Spesifikasi Bus Chassis MAN R37
Engine : D2676 Common-rail
Emission : Euro 3
Capacity : 12419 cc
Max output : 460Hp@1900RPM
Max Torque : 2100Nm@1000-1400 RPM
Max RPM : 2500 RPM with limited system
Engine brake : MAN EVB (Exhaust brake)
Transmission : MAN TipMatic 12 speed or Manual gearbox 6 speed
Brake system : Disc brake all axle with fully air duel circuit system ABS Exhaust brake (MAN EVB) Intarder
Chassis length : 11.895 to 14.6 m
Max load : 24 tons
Chassis MAN sudah siap dibuat untuk single atau double decker tergantung keperluan bisnis PO yang memilikinya.
Sumber : http://www.karoseri-id.com/2013/06/bus-chassis-man-r37-triple-exle.html
Langganan:
Postingan (Atom)


















